Titik Kastiah – Perjuangan Perempuan Piondo

Titik Kastiah – Perjuangan Perempuan Piondo

Desa Piondo adalah lokasi transmigran yang penduduknya berasal dari pulau Jawa dan Lombok. Lokasi itu dibuka pada 1983. Di lahan yang disediakan pemerintah, warga membuka dan mengelola lahan yang semula berupa semak belukar menjadi lahan produktif untuk bercocok tanam padi dan tanaman pangan lain.

Namun pada 1990, tiba-tiba ada upaya untuk menggusur lahan tersebut. Lahan itu akan dijadikan perkebunan kelapa sawit. Upaya itu tentu saja ditolak warga yang meras tanah tersebut adalah jatah dari pemerintah untuk transmigran. Konflik pun tak terhindarkan.

Puncaknya terjadi tahun 2010 ketika ada sebuah alat berat menghalangi jalan menuju lahan milik warga. Alat berat itu tiba-tiba terbakar. Selepas peristiwa itu, 24 petani Piondo ditangkap aparat berseragam dengan tuduhan sebagai pelaku pembakaran.

“Waktu itu 24 orang, termasuk suami saya ditangkap karena dituduh membakar alat berat sebuah perusahaan kelapa sawit. Berembus isu pula bahwa kami mau diserang. Tetapi, kami tetap memperjuangkan hak atas tanah dan sumber daya alam kami”. Ujar Titik

Selama dua bulan, warga mengadakan rinda dan tidur di lahan gerapan. Mereka hanya mengharap belas kasihan dari warga desa tetangga yang mengirimi kebutuhan makan-minum sehari-hari.

Suasana lambat laun kondusif meski proses penyelesaian konflik atas tanah tesebut secara hukum tetap berjalan. Warga termasuk Titik yang memiliki lahan seluas 2 hektar, bisa bertani lagi. “Kami menanam rimpang karena hampir semua jenisnya ada didesa kami”. Tuturnya,

Rimpang itu berupa jahe, kunyit, kencur, lengkuas, temu lawak, bangle dan temu giring. Dari berbagai jenis rimpang, jahe merah menjadi pilihan utama untuk dibudidayakan. Mengingat tahun 2012-2014, dari informasi para dagan, harga pasarnya relatif mahal, Rp 70.000 per kilogram.

Dengan harga yang bagus, warga menjadi “demam” menananm jahe. “Yang tidak memiliki benih diberi gratis oleh yang punya benih jahe dari hasil menjual ternak sapi”. Ujar Titik.

Inspirasi

Suatu ketika Titik terinspirasi oleh pedagang jamu gendong di pasar. Dari situ ia memiliki ide untuk tidak lagi menjual jahe dalam kondisi mentah, tetapi dalam bentuk ekstrak, dengan demikian, bahan baku jahe yang melimpah bisa diolah agar memiliki nilai jual lebih tinggi.

Ekstark jamu yang ia buat kemudian dipasarkan melalui media sosial. Sebagian ia jual keliling dari rumah ke rumah dan dititipkan kepada pedagang, pemilik kios di sejumlah kampung. Dengan cara itu, produk yang dibuat Titik mulai dikenal.

Saat ini, produk turunan jahe yang dibuat para ibu rumah tangga itu meliputi tingting jahe dan sagon jahe, ekstrak jamu jahe murni, jamu zedoria, ekstrak curcuma, jamu galian singset, jamu zaraba (minuman penghangat badan), ekstrak kunyit, serta ekstrak temu lawak dan kencur. Produk-produk tersebut dijual dalam kemasan saset 100 gram seharga Rp 10.000 sampai Rp 20.000.

Hasil penjualan dikelola koperasi. Untuk membantu anggota yang memerlukan dana, mereka membuat unit simpan pinjam. bagi yang meminjam dana Rp 500.000, bisa mencicil Rp 60.000 perbulan dalam jangka waktu 10 bulan, yang berarti ada selisih Rp 100.000 dari total pinjaman.

Selisih uang yang dikelola koperasi itu dikembalikan kepada para anggota lewat sisa hasil usaha setiap tahun. Tidak ada sanksi dan denda jika anggota menunggak angsuran, Asalkan peminjam jujur memberikan alasan menunggak. Titik mengatakan, koperasi memang dibentuk untuk meringankan beban anggota, bukan memberatkan.

Mbak Jamu

Upaya Titik mulai terwujud, tetapi perjuangannya masih panjang. Misalnya, warga belum memperoleh sertifikat kepemilikan atas tanah, padahal tanah dinilai menjadi “denyut nadi” dana aset utama warga yang bisa digunakan untuk kesejahteraan sekaligus menjaga ketahanan pangan.

Ditengah persoalan yang terus bermunculan, Titik tetap bekerja. Ia menangani tugas domestik rumah tangga, berjuang bagi perempuan di desanya, bahkan menjadi guru honorer taman kanak-kanak. Ketika ada pesanan barang, Titik masih berjualan menggunakan sepeda motor dengan keranjang berisi aneka jamu bertengger di bagian belakang roda dua yang dikemudikannya.

Dari atas sepeda motor ia berteriak “Jamu-jamu”, menawarkan jamu kepada pelangganya di lima desa. “Karena teriakan itu orang memanggil saya Mbak Jamu”. Tuturnya.

 

Sumber : KOMPAS, RABU, 9 JANUARI 2019

Share this post

Post Comment