3.100 Pohon Ditanam di Gunung Slamet

3.100 Pohon Ditanam di Gunung Slamet

Sejumlah kelompok masyarakat menanam 3.100 bibit tanaman keras di lereng Gunung Slamet bagian selatan, di Desa Melung Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Pelestarian lingkungan digiatkan untuk menjaga sumber mata air pegunungan serta mencegah bencana alam, seperti tanah longsor dan banjir bandang.

Penanaman pohon dilakukan lebih dari 200 sukarelawan. Mereka berkumpul di lapangan Desa Melung. Setelah apel, para sukarelawan menuju lokasi penanaman, yaitu sekitar 4 kilometer kearah utara atau menuju Curug Comblang.

Jalanan di sana menanjak dan berbatu licin. Sebagian besar sukarelawan ikut menumpang mobil jip, sebagian lagi mengendari sepeda motor dan bahkan ada yang berjalan kaki. Ribuan pohon ditanam di areal lereng yang dipenuhi semak belukar. Kondisi lahan cukup curam dan licin.

Salah satu mobil sukarelawan terperosok jatuh kedalam selokan di area permukiman warga. Namun, tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

“Kami berupaya melestarikan alam karena lereng selatan Gunung Slamet merupakan daerah serapan air untuk Kabupaten Banyumas, jadi harus semaksimal mungkin dirawat”, kata Kusworo, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana Desa Melung, yang juga Koordinator Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Banymas, Minggu (3/2/2019).

Tanaman keras yang ditanam antara lain pohon pucung, manggis, nangka dan avokad, Ribuan pohon itu berasal dari sejumlah instansi dan kelompok masyarakat, misalnya PLN, Institut Teknologi Telkom Purwokerto, Komunitas Jeep, RAPI, Bagana, Muhammadiyah Disaster Management Center, Tagana dan Pramuka Kabupaten Banyumas. Penanaman pohon dilakukan di Petak 57D wilayah Kesatuan Pemangukan Hutan Banyumas Timur.

“Sebagian pohon juga ditanam di Kecamatan Sumpiuh dan Tambak, Terutama di daerah aliran sungai. Belajar dari tahun 2018, ada 70 desa yang kekeringan pada musim kemarau”, kata Kusworo.

Kepala Desa Melung, Khoerudin mengatakan, selain meningkatkan kesadaran warga untuk menjaga lingkungan penanaman pohon ini juga bertujuan menjaga kelestarian lingkungan, khususnya menjaga oksigen dan air yang segar di wilayah lereng Gunung Slamet. “Ini untuk mendorong seluruh komponen masyarakat peduli menjaga lingkungan, menjaga air dan juga oksigen, serta mengajak masyarakat untuk tidak merusak hutan”, katanya.

Wakil Administrator Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Banyumas Timur Rachmat Widjaja mengatakan wilayah Perhutani yang masuk dalam pengawasannya mencapai 46.453 hektar hutan yang berada di empat kabupaten, yaitu Cilacap, Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara.

Dari jumlah itu, 18.000 hektar berada di kawasan lereng Gunung Slamet bagian Kabupaten Banyumas. Kawasan itu banyak ditanami pohon pinus dan damar. Hampir tidak ada perusakan hutan ataupun penebangan liar disana.

“Secara umum tutupan hutan masih bagus. Lahan yang kritis tersebar tidak sampai 10 hektar. Biasanya karena kemiringan sangat terjal, lalu terjadi longsor,” ujar Rachmat.

Selain menjadi resapan air, lereng Gunung Slamet juga menjadi kawasan wisata. Kawasan itu berjarak sekitar 17 kilometer dari Purwokerto. Tempat wisata yang cukup dikenal di lereng Gunung Slamet misalnya Lokawisata Baturraden, Curug Jenggala, Bumi Perkemahan, dan Kebun Raya Baturraden

Untuk bisa lebih menambah pengetahuan, keterampilan dan memperbaiki perilaku mari selalu update dengan mengikuti training di www.multikompetensi.com

Sumber : Purwokerto, Kompas, 4 Februari 2019

Share this post

Post Comment